Kesatria Burung Besi Raksasa

Juli 3, 2011 § Tinggalkan komentar

Menurut cerita Nenek, Emak Udin itu diculik oleh Burung Besi Raksasa. Dulu. Saat Udin masih belajar berjalan. Tak ada yang bisa menyelamatkan Emak, karena Bapak juga telah lama tertidur di dalam tanah. Udin Memang tak mengenal dengan baik siapa orang tuanya, tidak mengetahui bagaimana sebenarnya wajah Bapak dan juga Emak. Jadi selama ini, Udin mengetahui  tentang kedua orang tuanya hanya lewat cerita Nenek saja, dan juga lewat foto yang terpajang di dinding.

Dalam imajinasi Udin, ketika mendengar cerita Nenek tentang burung besi raksasa itu. Imajinasinya menggambar jelas seekor burung raksasa dengan ukuran yang melebihi ukuran lapangan bola yang ada di kampungnya, dengan tubuhnya yang keseluruhannya terbuat dari besi. Dengan sayap yang panjang membentang dan dari paruhnya yang besar akan mengeluarkan suara yang memekakan telinga. Bola matanya yang besar dengan awas memandang diri Emak. Lalu menukik dan dengan jari kuku yang besar mencengkram tubuh Emak. Membawa Emak pergi meninggalkan Nenek serta Udin, meninggalkan kampung mereka tanpa pernah kembali lagi.

« Read the rest of this entry »

Cawan Hidup

Juli 2, 2011 § Tinggalkan komentar

Ada masa dimana kebahagiaan dalam cawan itu, kita reguk lupa hingga tak bersisa. Sedangkan kesedihan yang kita tuang, meluber melewati batas tampung cawan itu. Lalu membasahi wajah dengan airmata. Tapi diantaranya, gelembung-gelembung hampa menjadi bagian dari setiap tetes rasa yang kita tuangkan kedalam cawan.

Tak terhindarkan, bahkan pada cawan yang  kita reguk habis indahnya itu. Hampa berkuasa pada ketiadaan yang kosong. Dan seketika kehidupan penuh erangan jiwa-jiwa gelisah. Apa pernah kau dengar itu? Saat berada didalam bis kota yang penuh dengan manusia yang saling berdesakan, erangan itu terdengar. Hanya melukis wajah yang termenung  menatap jalan dari balik kaca bis kota itu.

« Read the rest of this entry »

Titik Pertemuan

Juli 1, 2011 § Tinggalkan komentar

Ada satu titik, dimana kepasrahan menjadi jalan keluar. Membuang semua keinginan jauh dari hati. Meletakan dunia serta surga-neraka jauh dari tujuan. Maka kamu akan sampai pada satu perjamuan indah yang menyejukan. Cinta telah sampai pada kesejatian yang sebenarnya. Tanpa mengharap, hanya duduk bersimpuh dalam pandangan tertunduk. Mengucap sebaris kata, “Aku mencintai MU” …berkali-kali

Lalu jatuh dalam tubuh yang berguncang  menangis meraung, tanpa kuasa menjabarkan keindahan rasa. Bersetubuh dalam hening malam dan sendiri, dalam hujan airmata. Mengemis, mengiba dan meratap agar waktu berhenti selamanya.”Jangan!.. Jangan lagi kau renggut apa yang susah payah aku raih. Aku mohon!”

« Read the rest of this entry »